Senin, 31 Desember 2012

faktor pendidikan menurut tokoh pendidikan islam









TUJUAN, METODE  DAN EVALUASI PENDIDIKAN
DALAM PEMIKIRAN AL-GHAZALI DAN K.H. HASYIM ASY’ARI
 
BAB I

PENDAHULUAN
Faktor pendidikan dalam pembelajaran merupakan sistem tolak ukur untuk keberhasilan dan menempuh tujuan siswa yang akan dicapai, hal ini banyak berbagai pemikiran dari para tokoh pendidikan Islam. Dengan demikian penulis mengambil pemikiran tokoh pendidikan Islam yaitu Al-Ghazali dan KH.Hasyim Asy’ari. Dalam pemikiran-pemikiran tersebut terdapat faktor-faktor pendidikan yakni Tujuan, metode dan evaluasi, sebenarnya banyak  lagi tetapi penulis mengambil hanya tiga faktor yang akan dianalisiskan dan dikomparasikan antara tokoh kesatu dan tokoh yang kedua tersebut.
Sistem pendidikan al-ghazali sangat dipengaruhi luasnya ilmu pengetahuan yang dikuasainya, sehingga dijuluki filosof yang ahli tasawuf (failasuf al-Mutasawwifin). Dua corak ilmu yang telah terpadu dalam dirinya itu kemudian turut mempengaruhi formulasi komponen-komponen dalam sistem pendidikannya. (Ramayulis dkk, 2010:05)
Pemikiran Hasyim Asy’ari dalam bidang Pendidikan lebih banyak ditinjau dari segi etika dalam pendidikan. Etika dalam pendidikan banyak diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin pada Bagian adab kesopanan pelajar dan pengajar. Dalam dunia pendidikan sekarang, banyak disinggung dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan. dan para ahli psikologi pendidikan, menyinggungnya dalam kepribadian yang efektif bagi pembelajaran.Pemikiran Hasyim Asy’ari sendiri dalam hal ini diwarnai dengan keahliannya dalam bidang hadits, dan pemikirannya dalam bidang tasawuf dan fiqh. Serta didorong pula oleh situasi pendidikan yang ada pada saat itu, yang mulai mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat, dari kebiasaan lama (tradisonal) yang sudah mapan ke dalam bentuk baru (modern) akibat pengaruh sistem pendidikan Barat (Imperialis Belanda) yang diterapkan di Indonesia.
Untuk lebih memahami labih jelasnya tentang pemikiran KH Hasyim Asy’ari maka kita akan mengupasnya dalam bab pembahasan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Biografi Al-Ghazali
Nama lengkap Al-Ghazali adalah Abu Hamid  Muhammad bin Muhammad al-Tusi al-Ghazali, lahir  pada Tahun 1095 M di kota Gazalah, sebuah kota kecil dekat Tus di khurasan. Di masa mudanya ia belajar di Nisyapur, juga di Khurasan yang pada waktu itu merupakan salah  satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. (Harun Nasution,2010:29)
Sejak kecil Imam Al-Ghazali dikenal sebagai anak pencinta ilmu pengetahuan. Pendidikannya dimulai dengan belajar Al-Quran pada ayahnya sendiri, ketika ayahnya meningal dunia al-Ghazali dititipkan kepada teman ayahnya yang bernama Ahmad bin Muhammad al-Razikani, beliau adalah seorang sufi besar di Thusia. Al-Ghazali belajar dan mempelajari ilmu fiqh, riwayat hidup para wali, dan kehidupan spiritual mereka. Selain ia belajar juga menghafal syair-syair tentang mahabah kepada Allah, Al-Quran dan Sunnah.
Kemudian ia masuk ke sebuah sekolah yang menyediakan biaya hidup bagi para muridnya, gurunya seorag sufi yang bernama Yusuf al-Nassj. Setelah tamat ia melanjutkan pelajarannya ke kota Jurjani, di antara gurunya yaitu Abi Nashr al-Isma’ali. Karena ia masih ingin mempelajari banyak pengetahuan ia kembali ke kotanya yaitu Thus dan beberapa tahun kemudian ia prig ke Nisabur dan masuk Madrasah Nizamiah yang dipimpin oleh ulama besar, Imam Haramaini al-Juwaini salah seorang tokoh aliran Asy’ariah.
Dengan kecerdasan dan kepintaran al-Ghazali diakui oleh imam al-Juwaini, dan akhirnya ia diangkat sebagai asisten sekaligus mewakili pimpinan Madrasah Nizamiah. Pada tahun 1085 gurunya meninggal dunia Nisabur dan menuju ke Istana Nizham al-Muluk yang menjadi seorang perdana menteri Sultan Bani Saljuk. Dan pada tahun 1090 M/ 484 H iman al-Ghazali diangkat sebagai guru besar pada madrasah Nizamiah di Baghdad. (Suwito dkk, 2003:158-159)

B.       Tujuan, Metode  Dan Evaluasi Pendidikan  Dalam Pemikiran Al-Ghazali
1.        Tujuan pendidikan
Al-Ghazali dalam pandangan beliau tentang pendidikan dan pengajaran bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai ada dua tujuan, sebagai berikut:
1)   Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
2)   Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Tujuan mendalami dan mempelajari ilmu pengetahuan adalah semata-mata untuk ilmu pengetahuan itu sendiri.  Mengenai hal ini Al-Ghazali sangat menekankan kepada para penuntut ilmu agar menjadi ilmuan yang senantiasa menekuni profesi dalam disiplin ilmunya masing-masing. Setiap penuntut ilmu yang mencintai profesinya akan mencintai pelajaran. Ia akan mempergunakan seluruh waktunya untuk melakukan penelitian.
Al-Ghazali mengatakan dalam salah satu kitabnya bahwa tujuan mencari ilmu pengetahuan pada setiap masa adalah untuk membentuk kesempurnaan dan ketentraman jiwa, karena itu ia bermaksud mengajarkan manusia agar sampai pada sasaran-sasaran yang merupakan tujuan akhir dan maksud pendidikan itu. Tujuan ini kelihatannya lebih mengarah kepada sifat moral dan regius, tanpa mengabaikan masalah-masalah duniawi.
2.        Metode Pengajaran
Perhatiannya terhadap pendidikan agama dan moral sejalan dengan kecenderungan pendidikannya secara umum, yaitu prinsip-prinsip yang berkaitan khusus dengan sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanankan tugasnya. Proses pendidikan dan pengajaran merupakan aktvitas yang menuntut adanya keteladanan guru dan hubungan yang erat antara seseorang dengan lainnya yaitu guru  dan murid yang akan mendorong terciptanya metode pengajaran yang  amat penting.
Al-Ghazali amat menekankan pentingnya persiapan bahan pengajaran oleh guru. Para guru harus  mengamalkan ilmunya yang hendak diajarkannya dengan cara menarik perhatin para siswa, memberikan fasilitas dan kesempatan kepada para siswa untuk memahami bahan pelajaran yang diajarkan.
3.        Evaluasi Pendidikan
Menurut Al-Ghazali, evaluasi pendidikan berarti usaha memikirkan, membandingkan, memprediksi (memperkirakannya), menimbang, mengukur, dan menghitung segala aktifitas yang telah berlangsung dalam proses pendidikan, untuk meningkatkan usaha dan kreativitasnya sehingga dapat seefektif dan seefisien mungkin dalam mencapai tujuan yang lebih baik diwaktu yang akan datang.
Adapun subyek  evaluasi pendidikan adalah orang yang terikat dalam proses kependidikan meliputi : pimpinan, subyek didik, wali murid, dan seluruh tenaga adminstrasi. Dan yang menjadi evaluasi pendidikan adalah semua bentuk aktivitas yang terkait dengan tugas tanggung jawabnya masing-masing dalam proses kependidikan.
Tujuan evaluasi pendidikan ialah mengontrol efektifitas dan efisiensi usaha dan sarana, mengetahui segi-segi yang mendukung dan menghambat jalannya proses kependidikan menuju tujuan. Segi-segi yang menghambat diperbaiki atau diganti dengan usaha atau sarana lain yang lebih menguntungkan.

C.      Biografi K.H, Hasyim Asy’ari
Lahir di Desa Nggendang, dua kilometer sebelah utara Jombang pada 24 Dzuqa’dah 1287 H/ 14 Februari 1817 M. garis ketururannya berasal dari kalanangan ulama. Kakeknya KH Usman dikenal sebagai ulama besar di masanya yang memiliki pesantren di Nggedang. Orang tuanya KH.Asj’ari yang menyunting Halimah putrid KH.Usman menjadi penerus kemasyhuran pesantren Nggendang. Ia pun tercatat sebagai keturunan kesepuluh dari Prabu Brawijaya VI. (Rohinah, 2010:12)

D.      Tujuan, Metode  Dan Evaluasi Pendidikan  Dalam Pemikiran K.H, Hasyim Asy’ari
1.        Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan meurut Hasyim Asy’ari adalah (1) menjadi insan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, (2) insan yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat
2.        Metode Pengajaran
Sistem individual yang ditetapkan dalam metode wetonan dan sorogan, metode hafalan, Muhawarat, dan metode muzaharat, merupakan istilah-istilah lain metode yang diterapkan pada Islam klasik seperti al-sama’, al-imla’, al-ijaza’, mudzakara, dan munazara. Bahkan penekanan aspek hapalan dalam penerapan metode-metode diatas yang menjadi ciri khas pendidikan Islam klasik, juga menjadi tipikal pesantren Tebuireng dan pesantren salaf atau tradisional. (Rohman, 2010:63)
Menurut penulis ini bisa ditarik satu kesimpulan bahwa Kiai Hasyim Asy’ari dalam menggunakan metode pengajarannya lebih menitikberatkan pada metode hafalan, sebagaimana pada umumnya menjadi karakteristik dari tradisi Syafi’iyah dan juga menjadi salah satu ciri umum dalam tradisi pendidikan Islam.
Dalam menentukan pilihan metode pembelajaran sangat erat kaitannya dengan tujuan, materi maupun situasi lingkungan pendidikan dimana setiap unsur mempunyai karakteristik yang berbeda. Sehingga pemilihan, penetapan dan penggunaan metode dalam proses pembelajaran harus mempertimbangkan karakteristik tersebut. Metode konvensional yang lazim digunakan oleh kiai dalam proses pembelajaran di pesantren (pendidikan Islam tradisional) adalah sistem bandongan, sorogan dan wetonan dengan kajian pokok kitab kuning atau kitab klasik. Selain metode sorogan dan bandongan, Kiai Hasyim Asy’ari juga mengembangkan sistem musyawarah, yang pesertanya hanya santri senior  dan telah mengikuti seleksi yang cukup ketat. Hal ini dimaksudkan untuk mengkader calon-calon ulama masa depan agar dapat mengembangkannya di daerah masing-masing.
Masih berkenaan dengan metode belajar mengajar, masa depan di pesantren yag relative panjang, akan tetapi prinsip masyarakat modern cenderung praktis-pragmatis. Prinsip ini tidak hanya berlaku disektor ekonomi
3.        Evaluasi Pendidikan
Pada dasarnya tradisionalisme pendidikan (Islam klasik) mengindikasikan bahwa aplikasi pendidikan lebih berpusat pada subject matter oriented dengan posisi sentral pada keberadaan seorang guru sebagai subjek yang menentukan dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini, sesungguhnya konsep dan aktualisasi pendidikan Kiai Hasyim Asy’ari lebih dekat kepada kerangka essensialisme (lebih menitikberatkan pada materi) ketimbang progressifme (lebih menitikberatkan pada aspek intelektual/kecerdasan).
Mengenai evaluasi menurut pemikiran KH Hasyim Asy’ari memang dalam proses evaluasi tidak menggunakan standarisasi nilai, namun jika ditelisik sistem pendidikan islam  sebenarnya proses itu sudah menilai dari segala aspek yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dari pemikiran KH Hasyim Asy’ari yang telah digambarkan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemikiran KH Hasyim Asy’ari masih bercorak tradisionalis, tetapi pemikiran KH Hasyim Asy’ari tetap sesuai dan tepat jika diterapkan dalam pendidikan islam saat ini, terutama dalam beberapa aspek antara lain: dalam hal tujuan pendidikan, materi dan dasar yang digunakan yaitu Al-Qu’an dan Al-Hadist.
E.     Perbedaan Tiga Faktor Pendidikan dalam Pemikiran Al-Ghhazali dan KH.Hasyim Asy’ari
Dari penjelasan yang diatas ada hal yang membedakan antara dua tokoh tersebut, akan tetapi dalam tujuan pendidikan kedua tokoh mempunyai titik kesamaan dalam bertujuan pendidikan yakni  menjadi insan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan insan yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dalam metode, evaluasi pendidikan mmempunya perbedaan yang tidak jauh pemikiran dua tokoh tersebut, yakni pemikiran al-Ghazali tetang metode dan evaluasi ialah mendemonskrasikan dan mempersiapkan bahan ajar yang akan disampaikan oleh guru kepada siswanya dan untuk evaluasi sangat dilakukan dan diperhatikan ketika setelah proses pembelajaran, kini evaluasi sangat berpengaruh terhadap tujuan pendidikan bagi siswa.
Adapun perbedaan dari pemikiran KH.Hasyim Asy’ari dalam metodenya ialah metode hafalan, hafalan yang mempengaruhi konsentrasi santri atau siswa dalam mempergunakan intelektualnya, sehingga santri atau siswa dapat menguasai lebih lama dan jauh, sehingga dalam sistem evaluasi sangat berkaitan dalam proses pembelajaran hafalan, akan tetapi dalam pemikiran KH.Hasyim Asy’ari ini evaluasi yang digunakan  yakni keteladanan dan kesopanan dalam menghormati guru.
Dengan demikian antara perbedaan yang telah dipaparkan diatas mempunyai banyak pengetahuan dan pelajaran, sehingga dapat mengambil ibrah dan pelajaran atau pun pengetahuan dari dua tokoh tersebut.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pemaparan yang telah dijelaskan, dapat kami simpulkan bahwa Pandangan terhadap ilmu dan agama, signifikasikan adalah upaya memanusiakan manusia secara utuh, sehingga manusiaa bisa taqwa kepada Allah SWT dan mengamalkan segala peintahnya, sehingga pantas mendapatkan predikat makhluk yang lebih tinggi derajatnya dari makhluk lainya.
Menekankan guru sebagai subyek yang bertugas untuk mentransfer ilmu, dan murid sebagai obyek atau penerima ilmu. Proses evaluasi tidak menggunakan standarisasi nilai tetapi menggunakan pengamatan tingkah laku siswa dalam kehidupan sehari hari.

B.     Daftar Pustaka
a)      M. Noor, Rohinah, 2010. KH. Hasyim Asy;ari Memodernisasi NU dan Pendidikan Islam. Grafindo Khazanah Ilmu: Jakarta
b)      Nasution, Harun. 1978. Falsafah dan Msitisisme dalam Islam. Bulan Bintang: Jakarta.
c)      Ramayulis dkk. 2010. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam. Quantum Teaching: Ciputat.
d)     Suwito dkk. 2003. Sejarah Pemikiran para Tokoh Pendidikan. Angkasa: Bandung.